PEMERIKSAAN BAKTERI Salmonella
Instruksi Kerja Metode ini sebagai pedoman laboratorium untuk
mengidentifikasi bakteri pathogen Salmonella pada
produk perikanan.
2. Ruang lingkup
a.
Instruksi Kerja Metode ini meliputi pemeriksaan bakteri pathogen Salmonella
dengan metode konvensional.
b. Pemeriksaan bakteri pathogen Salmonella
pada produk perikanan.
3. Acuan
SNI 01-2332.2-2006. Cara uji mikrobiologi-Bagian 2:
Penentuan Salmonella pada produk perikanan. Badan Standarisasi Nasional.
4. Bahan dan pereaksi
a)
Bismuth sulfite
Agar (BSA)
b) Urea agar c) Hectoen Enteric (HE) Agar d) Lactose Broth (LB)
e)
Lysine
Decarboxylase Broth
f)
Lysine Iron Agar
(LIA)
g) Malonate Broth h) Motility Test Medium i) MR-VP Broth |
|
4. Bahan dan pereaksi (lanjutan)
j) Phenol red Carbohydrate Broth
k) Potasium Cyanide
(KCN) Broth
l)
Rappaport-Vassiliadis
(RV) medium
m)
Selenite Cystine Broth (SCB)
n) Simmon Citrate Agar o) Tetrathionate Broth (TTB) p) Triple Sugar Iron (TSI) Agar q) Trypticase Soy -Tryptose Broth
r) Ethanol 70%
p) Larutan Brillian
Green Dye
q) Lart.
Physiological Saline 0,85% dan Fomalinized Physiological
Saline 0,85%
r) Reagen Kovac’s
s)
Indikator Methyl
Red
t)
Tryptone (Tryptophane)
Broth
u) Urea Broth
v) Xylose Lysine Desoxycholate
(XLD) Agar
w)
Aquadest
x)
Larutan Potasium Hydroxide
40 %
y) Reagen
VP
z)
Larutan 1 N Sodium Hydroxide
aa)
Larutan 1 N Hydrochloric Acid
bb) Salmonella Polyvalent
Somatic O Antiserum
cc)
Salmonella Polyvalent Flagellar H Antiserum
|
|
5. Peralatan
a) Blender beserta plastik steril
b) Petridish .
c) Tabung reaksi.
d)
Timbangan analitik
e) Inkubator
f) Jarum
inokulasi
g) Autoclave
h) Vortex
mixer
i) Bunsen
j) Spatula
k) Filter apparatus
l) Oven
m) Hot plate dan stirer
6. Prosedur
pelaksanaan
6.1 Persiapan
contoh
Contoh ikan ditimbang sebanyak 25 g,
di-blender secara aseptis, atau contoh cair
sebanyak 25 ml, kemudian dimasukkan dalam wadah
steril dan ditambahkan 225
ml larutan Lactose Broth (LB), dikocok perlahan dan
bila perlu tentukan pH sampai
(6,8 ± 0,2) sehingga terbentuk homogenat . Jika pH dibawah 6,6 , ditambahkan 1
N NaOH steril, jika pH lebih dari 7,0
ditambahkan 1 N HCl.
|
|
6.2 Tahap analisa
6.2.1 Pra pengkayaan
Homogenat (butir
6.1) lalu diinkubasi selama 24 jam ± 2 jam pada suhu 35°C ± 1°C. Dilanjutkan pengujian sesuai dengan prosedur.
6.2.2 Pengkayaan
a). Untuk produk
perikanan dengan tingkat kontaminasi tinggi, ambil 0,1 ml larutan contoh ke
dalam 10 ml Rappaport-Vassiliadis
(RV) medium dan 1 ml larutan contoh ke dalam 10 ml Tetrathionate Broth
(TTB). Untuk jenis produk perikanan lain,
pindahkan 1 ml larutan contoh ke dalam masing-masing 10 ml Selenite
Cystine Broth (SCB)
dan 10 ml TTB.
b). Untuk produk perikanan dengan tingkat kontaminasi
tinggi, inkubasi RV medium selama 24 jam± 2 jam pada suhu
42°C ± 0,2°C; Inkubasi TTB
selama 24 jam ±
2 jam pada suhu 43°C
±
0,2°C.
Untuk jenis produk perikanan
lain, inkubasi TTB dan SCB
selama 24 jam ± 2
jam pada suhu 35°C ± 1°C.
6.2.3 Uji Presumtif Salmonella (seleksi pada
media agar)
a). Tabung dikocok (dengan vortex) dan dengan menggunakan jarum loop (3mm) gores TTB yang diinkubasi ke dalam media HE, XLD dan BSA.
b). Gores ke dalam media yang sama dari
RV Broth atau SCB.
c). Inkubasi
cawan BSA, HE dan XLD selama 24 jam pada suhu 35°C ± 1°C.
d). Diamati kemungkinan adanya koloni Salmonella
|
|
6.2.4 Pengamatan morphologi koloni Salmonella
yang khas (typical)
1). Diambil 2 atau lebih koloni
Salmonella dengan menggunakan jarum
ose dari masing-masing media agar
selektif setelah 24 jam ± 2 jam inkubasi. Koloni-koloni Salmonella yang khas
(typical) adalah sebagai berikut:
a). HE Agar.
Koloni hijau kebiruan sampai biru dengan atau tanpa inti hitam.
Umumnya kultur Salmonella membentuk koloni besar, inti
hitam mengkilat atau
hampir seluruh koloni
terlihat berwarna hitam.
b). XLD Agar. Koloni merah jambu (pink)
dengan atau tanpa inti hitam. Umumnya kultur
Salmonella membentuk koloni
besar, inti hitam mengkilat atau hampir seluruh koloni terlihat berwarna hitam.
c). BSA. Koloni
coklat, abu-abu atau
hitam; kadang-kadang metalik.
Biasanya media di sekitar
koloni pada awalnya berwarna coklat, kemudian berubah menjadi hitam (halo
effect)
dengan makin lamanya waktu inkubasi.
Koloni yang khas (typical)
tumbuh pada BSA setelah
24 jam ±
2 jam inkubasi.
2). Ambil koloni tersangka (typical) dari ketiga media diatas dengan menggunakan
jarum ose dan inokulasikan ke TSI agar dengan cara ditusuk ke dasar lalu gores pada agar miringnya
3). Dari TSI tanpa
mengambil koloni baru, gunakan jarum yang sama inokulasikan ke LIA dengan
cara menusukkan ke dasar agar dulu baru gores pada agar miring.
4). Diinkubasi
pada media TSI dan LIA
selama 24 jam
± 2 jam pada
suhu 35°C ±
1°C dengan membiarkan tutup sedikit kendur untuk mencegah
terbentuknya H2S yang berlebihan.
|
|
Koloni
Salmonella
yang khas (typical) seperti Tabel 1. berikut :
Tabel
1. Reaksi biokimia Salmonella
pada TSI dan LIA
5). Semua kultur yang memberikan reaksi alkalin pada tusukan agar tegak LIA, tanpa memperhatikan reaksi TSI, harus dipertimbangkan
sebagai potensial Salmonella dan
harus dilakukan uji biokimia dan serologi.
6).
Kultur yang memberikan reaksi asam pada tusukan agar tegak LIA dan asam baik
pada goresan agar miring dan tusukan agar tegak pada TSI, dapat dinyatakan
sebagai bukan Salmonella.
7). Dilakukan pengujian biokomia dan
serologi terhadap kultur presumtif-positif TSI untuk menentukan
adanya Salmonella.
|
||||||||||||||||
|
6.2.5 Uji Konfirmasi
6.2.5.1 Uji biokimia dan serologi :
6.2.5.1.1 Uji biokimia:
a). Uji urease
Inokulasikan
dari TSI tersangka dengan loop ke
urea broth atau gores pada urea agar.
Inkubasikan 24 ± 2 jam pada suhu 35°C
± 1°C.
Reaksi
spesifik Salmonella untuk uji
urease memberikan hasil negatif (tidak terjadi perubahan warna).
b) Uji citrat
Inokulasikan
dari TSI tersangka dengan loop ke simon
citrat agar, dengan cara digores.
Inkubasikan 96 ± 2 jam pada suhu 35°C
± 1°C.
Reaksi
spesifik Salmonella untuk uji
citrat memberikan hasil variable (menjadi biru/ tidak terjadi perubahan
warna).
c). Uji
Lysine Decarboxylase Broth
(LDB)
Uji ini dilakukan hanya jika reaksi LIA meragukan.
Ambil 1 ose dari TSI ke
dalam media LDB. Kendurkan tutupnya
dan inkubasi selama 48 jam ±
2 jam pada suhu 35°C±1°C, tetapi amati setelah 24 jam. Salmonella memberikan reaksi alkalin ditandai dengan warna ungu pada seluruh media. Reaksi negatif
ditunjukkan dengan warna kuning pada seluruh media. Jika hasil reaksi tidak
menunjukkan warna kuning atau ungu, ditambahkan beberapa tetes 0,2% bromocresol purple dye
dan amati perubahan warnanya.
d). Phenol red dulcitol 0,5%
Ambil
1 ose dari
TSI ke dalam
media dulcitol Broth.
Kendurkan tutupnya dan inkubasi selama 48 jam ± 2 jam pada suhu 35°C ± 1°C, tetapi amati setelah 24jam. Pada umumnya Salmonella
memberikan hasil positif, ditandai dengan pembentukan gas dalam tabung durham dan pH
asam (kuning) pada
media.
|
|
Reaksi negatif dulcitol
ditandai dengan tidak
terbentuknya gas pada
tabung durham dan warna
merah (phenol red sebagai indikator).
e). TB
(Tryptone Broth)
Dipindahkan 1 ose dari TSI ke
dalam media Tryptone Broth. Inkubasi selama 24
jam pada suhu 35°C ± 1°C dan
selanjutnya ikuti prosedur di bawah
ini:
1). Potasium Cyanida (KCN) Broth
Ambil 1 ose
dari TB 24 jam kedalam media KCN Broth.
Tutup tabung rapat-rapat dan dilapisi dengan kertas parafilm. Diinkubasikan selama 48 jam ± 2 jam pada suhu
35°C ± 1°C tetapi
amati setelah 24
jam. Hasil positif
ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan (ditandai
dengan adanya kekeruhan). Salmonella tidak tumbuh pada media ini yang ditandai dengan
tidak terjadinya kekeruhan (jernih).
2). Malonate Broth
Ambil 1 ose dari TB 24 jam
kedalam media Malonate Broth.
Diinkubasi selama 48 jam ± 2 jam pada suhu 35°C ± 1°C, tetapi amati setelah 24 jam. Kadang-kadang tabung Malonate Broth
yang tidak diinokulasi berubah menjadi biru. Oleh karena itu gunakan Malonate Broth sebagai kontrol. Reaksi positif ditandai dengan perubahan warna menjadi biru. Umumnya Salmonella
memberikan reaksi negatif (hijau atau tidak
ada perubahan warna) pada broth
ini.
3). Uji Indol
Ambil 5 ml TB
24 jam kedalam tabung kosong dan tambahkan 0,2 ml - 0,3 ml Reagent
kovacs’. Amati segera setelah penambahan Reagen.
Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya cincin merah pada permukaan
media. Umumnya Salmonella memberikan reaksi negatif (tidak terbentuk cincin merah pada
permukaan media).
|
|
f) Phenol
red lactose broth.
− Ambil 1 ose
dari TSI Agar miring yang
telah diinkubasi selama 24 jam -48 jam kedalam phenol red lactose broth. Diinkubasi selama 48 jam± 2 jam pada suhu
35°C ± 1°C, tetapi amati
setelah 24 jam.
Positif, apabila
terjadi pembentukan asam (kuning), Salmonella memberikan hasil
negatif ditunjukkan warna
merah (phenolred
sebagai indikator).
g) Phenol red sucrose broth.
− Ambil 1 ose
dari TSI Agar miring yang
telah diinkubasi selama 24 jam - 48jam kedalam Phenol red sucrose broth. Diinkubasi selama 48 jam ± 2
jam pada suhu 35°C ± 1°C, tetapi amati
setelah 24 jam.
Positif, apabila
terjadi pembentukan asam (kuning), Salmonella
memberikan hasil negatif,
ditunjukkan warna merah
(phenol red
sebagai indikator).
6.2.5.1.2 Uji
serologi
a) Uji serologi Polyvalent Somatic (O)
1). Ambil 1 ose kultur dari TSI agar
yang diinkubasikan selama 24 jam - 48 jam dan diletakkan diatas gelas
preparat.
2). Tetesi dengan
larutan saline 0,85% steril dan emulsikan.
3). Letakkan 1 tetes Salmonella
Polyvalent Somatic (O) Antiserum
disamping suspensi koloni. Campurkan
koloni Antiserum
sedikit demi sedikit dengan suspensi koloni sampai tercampur
sempurna.
4). Lakukan kontrol dengan
menggunakan larutan saline
dan Antiserum.
5). Miringkan
campuran tersebut ke kiri dan ke kanan, dan amati segera pada latar belakang yang gelap. diamati hasil uji sebagai
berikut :
a)). Positif
apabila terjadi penggumpalan pada larutan kultur dan tidak terjadi
penggumpalan pada larutan kontrol.
|
|
b)). Negatif apabila
tidak terjadi penggumpalan baik pada larutan kultur maupun larutan kontrol.
c)). Non spesifik apabila terjadi
penggumpalan pada kedua uji campuran dan kontrol.
b)
Uji serologi Polyvalent Flagellar
(H)
1). Ambil 1 ose
dari masing-masing TSI Agar yang
memberikan reaksi Urease negatif kedalam:
(a). 5 ml BHI Broth, dan diinkubasi selama 4
jam -
6 jam pada suhu 35°C ± 1°C sampai terlihat
pertumbuhan (pada hari yang sama). Ditambahkan 2,5 ml larutan formanilized Physiological Saline ke dalam BHI Broth .
(b). 5
ml Tryticase soy -Tryptose Broth
(TSTB) dan diinkubasi selama 24 jam ± 2 jam pada suhu 35°C ± 1°C. Ditambahkan
2,5 ml larutan formanilized Physiological Saline ke dalam TSTB (untuk diuji pada hari berikutnya).
(c ). Tambahkan 2,5 ml Formanilized Physiological Saline dan
uji dengan Salmonella Polyvalent
Flagellar (H) antisera.
(d). Masukkan ± 0,5 ml larutan Salmonella Polyvalent Flagellar (H) antisera dalam tabung serologi
10 x 75 mm atau 13 x 100 mm.
(e). Tambahkan 0,5 ml antigen yang akan diuji (butir 1
dan 2).
(f). Siapkan kontrol saline dengan mencampur 0,5ml
formanilized
Physiological Saline dengan 0,5 ml formalinized antigen.
(g). Inkubasikan campuran
tersebut pada suhu 48°C - 50°C. Diamati
setiap interval waktu 15 menit dan amati hasilnya selama1 jam.
a)) Positif apabila terjadi
penggumpalan dalam uji campuran dan
tidak ada penggumpalan dalam
kontrol.
b)) Negatif apabila tidak
ada penggumpalan dalam
uji campuran dan
juga kontrol.
c)) Non spesifik apabila
terjadi penggumpalan pada kedua uji campuran dan kontrol.
|
|
6.3
Interpretasi hasil:
a.
Reaksi biokimia dan serologi untuk Salmonella tersaji pada Tabel 2.
Tabel 2. Reaksi biokimia dan serologi untuk Salmonella
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
7. Dokumentasi
Instruksi Kerja Metode ini disimpan dalam bentuk
berkas dan/atau file dalam komputer dengan status legalitas yang sama. Adapun
formulir terkait yang digunakan dalam Instruksi Kerja Metode ini adalah worksheet
Analis dan LHPS.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.